Wealth Mindset

“Too many people spend money they haven’t earned, to buy the things they don’t want, to
impress people they don’t like.” – Will Smith

Tanpa kita sadari, apa yang dikatakan Will Smith di atas adalah cerminan dari hidup kita
saat ini. Banyak orang, termasuk kita sendiri barangkali, yang begitu mudah terjebak gengsi.
Hanya demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar, tanpa pikir panjang, kita rela
berhutang untuk membeli barang barang yang belum tentu kita butuhkan. Akibatnya tagihan
kartu kredit menumpuk dan keuangan kita menjadi kacau.

Di mata orang lain, kita mungkin terlihat “wah” dengan segala barang barang mewah yang kita miliki. Tapi tiap awal bulan merasa tidak tenang dikejar-kejar untuk membayar cicilan kredit barang. Mendapatkan gaji bulanan hanya untuk membayar hutang kredit berbagai barang.

Jika terus dibiarkan, sikap ini sangat berbahaya. Konsumerisme adalah hal yang sifatnya kultural, yang dibangun dari mindset dan kebiasaan. Inilah yang jarang kita sadari. Ada cara pikir yang membedakan antara orang-orang kaya dengan orang-orang miskin dalam menyikapi uang dan kekayaan. Mindset yang berbeda tentang uang dan kekayaan inilah yang menjadikan orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin.

Orang-orang miskin, ketika memiliki uang mereka berfokus pada life style. Mereka fokus pada pikiran barang apa ya yang harus saya beli supaya kelihatan keren, gaul dan mengikuti perkembangan zaman ? Fokus pada life style itulah yang menyebabkan mereka tetap miskin walaupun sudah bekerja keras.

Bagaimana dengan orang-orang kaya ? Jangan bayangkan orang-orang kaya itu adalah mereka yang berbaju atau bermobil mewah dan rumah yang mentereng di kawasan elit. Itu adalah pandangan yang keliru tentang orang-orang kaya.

Dalam buku best seller, The Millionaire Next Door dari New York Times, Thomas J. Stanley mewawancarai 300 orang jutawan Amerika serikat untuk mengetahui, bagaimana mereka berfikir ? Bagaimana mereka mendapatkan kekayaan ? Bagaimana mereka membelanjakan
uangnya ?

Akhirnya inilah jawaban yang ia temukan. Berdasarkan temuan Thomas J. Stanley, orang kaya adalah :

 Mereka yang merupakan miliuner sesungguhnya (kekayaan bersih > 1 juta USD)
hidup secara hemat, membelanjakan uang jauh di bawah pendapatan rata-rata
mereka
 80% dari mereka terlahir dari keluarga miskin atau menengah
 Tidak berpakaian mahal, tidak pernah membeli jam tangan mahal, mengendarai
mobil bekas dan tidak pernah membeli mobil baru
 Menginvestasikan 20% pendapatan mereka dalam bisnis pribadi

Ternyata orang-orang kaya tersebut berfokus pada wealth style, alih-alih life style. Ketika mereka mendapatkan uang, yang ada di benak mereka adalah uang ini saya apa kan ya supaya bisa bertambah banyak dan berkembang ?

Orang-orang kaya berfokus pada wealth style, itulah yang menjadikan mereka semakin kaya. Dan itulah perbedaan yang membedakan antara orang-orang miskin dengan orang-orang kaya.

Li Ka Shing misalnya. Orang terkaya di Asia versi majalah Forbes ini membagikan kebiasaan hidupnya. Menurut Li, apapun yang terjadi dan tidak peduli berapa pun penghasilan kita, kita harus membaginya menjadi 5 bagian.

li ka shing

Dengan begitu kita dapat mengatur pengeluaran dengan baik. Li Ka Shing memberi contoh sederhana seperti ini. Jika kita memiliki penghasilan Rp.4,000,000, maka hal yang bisa kita lakukan adalah :

Yang pertama, sisihkan Rp. 1,2jt (30%) untuk biaya hidup. Ini berarti kita dituntut untuk bisa
spend kurang lebih Rp.40rb per hari, untuk transportasi plus makan.

Yang kedua, gunakan Rp. 800ribu (20%) untuk sosialisasi. Anggarkan Rp. 200rb untuk pulsa telepon. Traktir teman-teman Anda sebanyak 2x per bulan, masing-masing kurang lebih Rp.300rb. Jika dilakukan setiap bulan selama 1 tahun, network kita pasti nambah. Ingat, bahwa yang kita traktir adalah orang-orang yang lebih dari kita, lebih kaya, lebih pintar, atau mereka yang berperan dalam membantu kita dalam meniti karir.

Yang ketiga, anggarkan Rp. 600rb (15%) untuk belajar. Sisihkan sebagian untuk beli buku dan sisanya untuk mengikuti kursus/workshop. Semakin besar pendapatan kita, pastikan untuk menghadiri kelas-kelas yang lebih advance.

Yang ke empat, sisihkan Rp. 400rb (10%) untuk berlibur. Gunakan penginapan sederhana dan bepergian ala backpacker. Selain untuk menyegarkan pikiran, liburan akan membuka mata kita mengenai dunia di luar.

Dan yang terakhir, gunakan Rp. 1jt (25%) sisanya untuk berinvestasi. Bisa juga berbisnis hal yang kecil-kecil dulu. Beli barang grosiran dan jual secara ritel. Pengalaman yang didapatkan dari berdagang akan sangat berharga dalam hidup. Dan kalaupun rugi, ruginya masih kecil. Jika berhasil, sisihkan keuntungan untuk investasi jangka panjang agar keuangan kita terjamin di masa depan.

Pertahankan kelima rasio tersebut dan Anda akan mulai memiliki kelebihan uang. Ini adalah
rencana untuk siklus kehidupan yang lebih baik. Kondisi tubuh Anda akan membaik seiring
peningkatan asupan nutrisi dan kasih sayang. Teman bertambah dan network Anda menjadi
semakin berharga.

Satu lagi pesan dari Li Ka Shing. Saat Anda miskin,berbaiklah kepada orang lain. Jangan
penuh perhitungan. Saat Anda kaya, biarlah orang lain berbuat baik kepada Anda. Saat
Anda miskin, jangan banyak memilih, jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Saat Anda kaya, jaga diri dan jangan mudah dimanfaatkan orang. Saat Anda miskin, Anda harus murah hati dan mudah berbagi. Saat Anda kaya, jangan terlihat boros. Pada titik tersebut, kehidupan Anda akan mencapai keseimbangan.