Sukses Tidak Bergantung Pada Bakat

Setujukah kamu  jika seorang yang sukses itu disebabkan  faktor bakat yang dimilikinya sejak lahir?

Kita cenderung melihat orang yang sukses adalah karena bakatnya dan melupakan pengorbanan yang dilakukannya. Padahal faktanya, orang sukses tak bisa lepas dari sebuah pengorbanan dalam mencapai tujuan.

Dalam buku Creative Habit milik Twyla Tharp dikatakan bahwa Mozart, seseorang yang terkenal sebagai musisi lengkap dan penulis  komposisi untuk berbagai kombinasi instrumen. Dan pada usia 21 tahun, dia berhasil menghasilkan karya terkenalnya: komposisi Piano Concerto No.9. Karya itu dilahirkan melalui latihan yang disiplin selama 18 tahun di bawah bimbingan tutor Sang Ayah.

Namun, pada usia 28 tahun, tangannya mengalami rasa sakit yang berat, yakni cacat karena telah menghabiskan hampir semua hidupnya untuk berlatih secara fokus dan latihan yang sangat kuat dengan ditemani ayah dan coach. Artinya, ketika kita ingin mencapai keberhasilan, maka diperlukan sebuah kerja keras yakni latihan.

Ada pepatah yang mengatakan “practice makes perfect”. Ya, ini ada benarnya, orang-orang yang terus melatih diri akan meraih kesempurnaan. Namun, Twyla Tharp menyangkalnya dengan bilang:  “Hanya ‘perfect practice’-lah yang menghasilkan karya-karya hebat. Dan orang-orang seperti inilah yang kelak meraih keberuntungan.”

Apa yang dimaksud dengan ‘perfect practice’ ?

Dalam buku “Self Driving” yang ditulis oleh Rhenald Kasali dijelaskan bahwa latihan yang sempurna melibatkan peran kedisiplinan diri yang besar. Kedisiplinan diri akan menghasilkan sebuah kekuatan yang tidak pernah kita duga, yakni ‘will power’ atau tenaga  dari dalam diri kita yang dapat memudahkan kita dalam mengambil keputusan dan tindakan hingga selesai. Tenaga dalam ini mengalahkan kemalasan, penundaan-penundaan, godaan-godaan, dan kebiasaan buruk. Kita akan tetap konsisten menjalankan misi kita tanpa tergantung meda yang kita hadapi.

Lalu apa saja perlu kita ketahui untuk menjadi seseorang yang sukses ?

Jawaban yang hampir pasti adalah menjadi disiplin.

Setidaknya ada tiga jenis disiplin yang perlu kita kenali untuk membentuk diri menjadi sukses, seperti yang ditulis oleh Rhenald Kasali. Ketiga jenis ini menimbulkan akibat yang berbeda-beda, dan tentu saja sumbernya juga berbeda.

  1. Forced dicipline

Disiplin ini digerakkan dari luar oleh lembaga tempat kita bekerja, orang tua, guru, trainer, atau coach kita.

  1. Self Dicipline

Disiplin ini berasal dari dalam diri masing-masing yang dibentuk secara bertahap dan melawan ketidaknyamanan-ketidaknyamanan diri termasuk tahan menghadapi masalah yang muncul.

  1. Indisiplin

Ini adalah perilaku yang tidak berdisiplin. Contohnya adalah tentara yang bertindak di luar perintah komandannya, pegawai yang bertindak di luar jam yang sudah ditetapkan kantor, mahasiswa yang tidak menyerahkan tugas, dan masih banyak contoh yang dimaksud.

Dari ketiga hal diatas, yang paling bertahan lama adalah yang kedua yakni “self discipline” karena tidak membutuhkan mood  untuk melakukannya sehingga kita bisa sangat terpacu mencapai goals yang telah kita tetapkan sendiri tanpa campur tangan orang lain.