Apa itu kaya ?

Kondisi seperti apa sih sebenarnya yang bisa disebut “kaya”? Cobalah minta pendapat 10 orang teman Anda untuk mendefinisikan apa arti “kaya” menurut mereka. Pasti akan ada lebih dari satu definisi. Ini artinya, “kaya” memiliki arti yang personal, dan berbeda antara satu orang dengan yang lainnya.

Tapi, diantara sekian banyak definisi kaya yang personal itu, hampir bisa dipastikan, mayoritas mengartikan kaya dalam arti punya banyak uang. Pertanyaannya, seberapa banyak uang yang harus dimiliki untuk bisa didefinisikan sebagai orang yang kaya?

Manusia adalah mahluk sosial sehingga secara tidak sadar, kita cenderung membandingkan diri kita dengan orang lain di sekitar kita. Bayangkan, jika Anda menjadi satu satunya orang di lingkungan Anda yang memiliki uang sebesar Rp. 100 juta. Tentu Anda akan merasa Anda adalah orang yang kaya. Tapi, bagaimana seandainya jika orang orang di lingkungan Anda memiliki uang Rp. 200 juta? Apakah Anda masih merasa kaya? Apakah Anda masih merasa bahagia? Nah, inilah yang disebut dengan social comparison. Hal ini sejalan dengan sebuah studi yang dilakukan oleh Warwick University di Inggris. Studi ini membuktikan  bahwa uang hanya bisa membuat kita bahagia jika sudah bisa membuat kita lebih kaya dari tetangga.

Kalau uang tidak bisa digunakan untuk mengukur kekayaan dan kebahagiaan, lalu bagaimana dengan materi? Jawabannya, sama saja, tidak bisa. Coba kita ingat ingat lagi perasaan kita saat pertama kali memiliki mobil idaman. Tentunya saat itu kita merasa senang. Tapi, seiring waktu, semakin lama kita menggunakannya, perasaan senang mungkin semakin memudar. Kita menjadi terbiasa dengan mobil itu. Nah, di saat itulah kita sedang membentuk suatu adaptasi. Inilah yang disebut sebagai habituation.

Celakanya, jika dikaitkan dengan materi, habituation bisa membuat kita terjebak dalam hedonic treadmil. Contoh, jika sekarang kita sudah merasa puas dengan memiliki mobil Innova, besok ingin punya CRV. Setelah punya CRV, kepengin punya Alphard, begitu seterusnya sampai mungkin sudah tidak ada lagi mobil lain yang bisa membuat kita merasa puas. Sederhananya, selama kita berlari di atas treadmill itu, kita tidak akan pernah merasa bahagia. Kita merasa belum kaya. Dan pada akhirnya, kita justru akan merasa kelelahan karena terus “berlari”.

So, pertanyaan yang muncul kemudian adalah, Is it a bad thing to have a lot of money? Jawabannya, tidak. Perusahaan riset global Pew Research Center pernah melakukan survei terhadap enam belas ribu orang lebih di 43 negara. Riset ini berhasil menemukan korelasi yang kuat antara peningkatan kekayaan dan kebahagiaan. Hasil riset menunjukkan bahwa pendapatan yang lebih tinggi bisa meningkatkan kesejahteraan sekaligus kebahagiaan seseorang, setidaknya sampai di level tertentu.

Obama awarding the Presidential Medal of Freedom to Daniel Kahneman

Sejalan dengan penelitian Pew Research Center, Daniel Kahneman, seorang psikolog ternama dari Amerika juga telah melakukan penelitian yang menunjukkan hasil yang sama, bahwa kita tetap memerlukan uang untuk bisa menjadi bahagia.

Survei yang dilakukan Kanehman di Amerika menunjukkan bahwa uang memeliki peranan dalam menentukan kebahagiaan seseorang sampai orang itu berhasil memiliki pendapata sekitar 6000 US dolar per bulan (kurang lebih sama dengan 81 juta rupiah per bulan). Lebih dari itu, barulah peranan uang dalam membentuk kebahagiaan seseorang semakin pudar. Ini persis seperti apa yang pernah dikatakan Bill Gates,”Once you get beyond a million dolar, I have to tell you, it’s the same Hamburger.”