Kita semua Terhubung

Ditulis : Yolly Yohandi

Kalau orang tua kita berpesan, pandai pandailah memilih teman, ini bukan tanpa alasan. Karena sebuah riset membuktikan, kita akan menjadi ― seperti rata-rata dari lima orang ― yang paling sering kita temui.

Dalam bukunya Connected, Nicholas A. Christakis dan James H. Fowler mengungkap bagaimana jejaring sosial di kehidupan sehari hari mampu mengarahkan dan membentuk nyaris semua segi kehidupan kita. Apa yang kita rasakan, apakah kita akan sakit atau tidak, berapa uang yang kita dapat, semua itu bergantung pada apa yang dilakukan, dipikirkan, dan yang dirasakan oleh orang orang di sekitar kita, bahkan oleh mereka yang tidak terhubung langsung dengan kita.

Bagaimana itu bisa terjadi?

Sebagai tahap yang paling awal, adalah karena sifat emosi yang menular. Riset telah membuktikan bahwa orang bisa “ketularan” keadaan emosional yang mereka amati pada orang lain dalam jangka waktu dari hitungan detik sampai minggu.

Contoh terdekat misalnya, jika ada mahasiswa baru ditempatkan sekamar dengan mahasiswa semester akhir yang agak depresi, dalam 3 bulan ke depan, mereka akan semakin depresi. Sederhananya, emosi bukanlah sekedar perasaan internal. Emosi, perasaan, dan suasana hati kita dipengaruhi juga oleh keadaan emosional orang lain yang berinteraksi dengan kita.

Emosi menyebar dari orang ke orang karena sifat interaksi manusia, yaitu : Kita punya kecenderungan biologis untuk meniru orang lain, dan ketika kita meniru, kita juga ikut mengalami keadaan internal yang sama dengan mereka. Misalnya, jika teman Anda merasa senang, dia tersenyum. Anda pun ikut tersenyum.

Nah, saat kita ikut tersenyum itulah, kita ikut senang. Tertular keadaan internal mereka. Inilah empati naluriah manusia. Orang meniru ekspresi wajah orang lain, dan sebagai akibat langsungnya adalah mereka jadi ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Teori ini disebut teori umpan balik wajah, karena jalur sinyalnya berawal dari otot di wajah, baru menuju ke otak. Bukan jalur biasanya, yaitu dari otak ke otot. Teori ini jugalah yang menjelaskan, mengapa seorang operator telpon di latih untuk tersenyum saat melayani pelanggan (smiling voices), meskipun pelanggan tidak bisa melihat wajah mereka. Karena suara yang dihasilkan saat kita tersenyum, bisa memberi efek yang sama dengan lawan bicara.

Mekanisme biologis lain yang membuat emosi cepat menular adalah apa yang disebut dengan Mirror Neuron System dalam otak manusia. Otak kita berlatih melakukan gerakan gerakan yang dilakukan oleh orang lain yang kita tonton, seolah olah kita yang melakukan gerakan itu sendiri.

Hal sederhana yang bisa menjelaskan apa itu Mirror Neuron System adalah saat kita menonton pertandingan olah raga favorit kita. Saat menonton, adakalanya kita tegang, kita gemas dengan kesalahan yang dibuat atlit favorit kita. Kita ikut bereaksi saat terjadi kesalahan, kita jadi gatal ingin ikut memberi gerakan kepada pemain di lapangan.

Saat kita melihat atlit itu berlari, melompat, atau menendang, ternyata bukan hanya bagian otak yang memikirkan apa yang kita amati yang aktif, tetapi bagian otak kita yang kita gunakan saat berlari, melompat, atau menendang juga ikut aktif.