Hati – Hati ! Inilah Kekuatan Dari Pengaruh Lingkungan

Ketika novel karya Johann Wolfgang von Goethe, The Sorrows of Young Werther, terbit di tahun 1774, angka bunuh diri para anak muda di beberapa negara Eropa tiba-tiba melonjak naik. Selidik punya selidik, ternyata kenaikan angka bunuh diri tersebut disebabkan oleh peniruan terhadap tokoh utama di novel tersebut.

Pemerintahan di Italia, Jeman, dan Denmark segera melarang peredaran buku tersebut. Studi yang dilakukan sosiolog David Phillips di tahun 1974 menemukan bahwa fenomena Werther tersebut juga terjadi setelah publikasi tindakan bunuh diri di media massa. Phillips menemukan selama periode 1947 hingga 1968, angka bunuh diri naik setelah artikel tentang bunuh diri terbit di halaman dengan surat kabar New York Times.

Bila orang asing saja – yang kisahnya cuma dibaca lewat novel atau surat kabar – bisa mempengaruhi tindakan drastis kita, bagaimana dengan orang-orang dekat seperti teman atau saudara? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa berkunjung ke sebuah desa di daerah Manitoba, Kanada, pada tahun 1995.

Di desa yang berpenduduk 1500 jiwa tersebut, angka bunuh diri dengan gantung diri tiba-tiba melonjak tajam dalam empat bulan. Dalam komunitas yang kecil seperti itu, hampir setiap orang saling kenal. Tindakan bunuh diri dari orang pertama langsung menyebar bagaikan epidemi. Enam orang merenggut nyawanya sendiri dalam kurun waktu empat bulan tersebut, belum termasuk beberapa percobaan gagal lainnya.

Mari kita berkenalan dengan manusia, yang selain merupakan makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial. Kecuali bila Anda adalah seorang psikopat atau sosiopat, tindakan dan pikiran Anda sangat dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar Anda, bahkan orang-orang asing sekali pun.

Para peneliti sosial menemukan, pengaruh terbesar datang dari orang-orang yang kita kenal langsung. Tetapi Anda masih akan mendapatkan pengaruh sosial sampai tingkat ketiga. Dengan kata lain, teman dari teman dari teman Anda tetap bisa mempengaruhi Anda, walau Anda sering tidak menyadarinya.

Sudah bukan rahasia umum lagi, secara rata-rata, orang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Logika yang bisa menjelaskan tersebut cukup sederhana: Orang kaya akan mendapatkan lebih banyak teman, dan banyak teman memberikan lebih banyak peluang bisnis.

Prinsip yang sama berlaku juga untuk mereka yang pintar, yang lebih senang berkumpul dengan teman-teman mereka yang pintar, dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk bertukar pikiran sehingga pengetahuan mereka bertambah.

Seperti yang kita lihat, kekuatan jejaring sosial bisa menarik Anda menjauhi impian Anda, atau membantu Anda, melalui kekuatan motivasi atau demotivasi yang disalurkan lewat jejaring tersebut. Bila Anda berkumpul dengan orang-orang yang sukses, kesuksesan mereka bisa memotivasi untuk berusaha lebih keras, apalagi bila mereka berasal dari latar belakang yang sama dengan Anda.

Selain itu, unsur kompetisi dari anggota kelompok juga bisa memberikan motivasi tambahan yang tidak bisa diperoleh jika Anda berusaha sendirian. Itu sebabnya mengapa kelompok yang ingin mencapai tujuan bersama, seperti klub diet, bisa mencapai hasil yang lebih baik dibanding individu yang mencoba sendirian.

Itu juga salah satu alasan mengapa klub tenis Spartak atau sekolah musik Ivan Galamian bisa menghasilkan banyak ahli kelas dunia dalam waktu singkat. Para guru dan siswa-siswa yang berkumpul bersama bisa saling memotivasi, mendukung, mengkritik, atau berkompetisi.

Tetapi peran jejaring sosial lebih dari itu. Dalam salah satu studi psikologi yang berlangsung paling lama, George Vaillant mengikuti perkembangan para lulusan Harvard University selama 40 tahun—untuk mengetahui apa yang membedakan mereka yang sukses dan bahagia―dengan mereka yang kurang berhasil.

George Vaillant

Dalam wawancaranya dengan Atlantic Montly pada tahun 2009, Vaillant mengatakan dia bisa menyimpulkan hasil studi tersebut dalam satu kata, “Cinta – titik”. Sesederhana itu. Dalam sebuah artikel susulan yang ditulisnya kemudian, Vaillant mengatakan bahwa dia memiliki “bukti selama 70 tahun bahwa hubungan dengan orang lain berarti, dan berarti lebih dari apa pun di dunia ini.”

Kesimpulan tersebut didukung banyak pakar lainnya. Dalam buku, Happiness, psikolog Ed Diener dan Robert Biswas-Diener mengkaji ulang banyak hasil riset tentang kebahagiaan, dan menyimpulkan bahwa kita membutuhkan hubungan sosial sama seperti kita membutuhkan udara dan air.

Jika kita memiliki hubungan sosial yang berkualitas – apakah itu dengan pasangan hidup, keluarga, teman, atau rekan kerja – kita menggandakan sumber daya emosi, intelektual, dan fisik kita. Kita bisa kembali lebih cepat pulih dari krisis atau stress. Kita bisa melakukan lebih banyak hal dalam waktu lebih singkat. Selain itu, hubungan sosial juga membuat kita lebih bahagia, dan orang yang bahagia belajar lebih cepat dan berpikir lebih kreatif.

Mereka yang sukses mencapai puncak, seperti Thomas Edison atau Albert Einstein, bukanlah orang-orang yang suka berpikir sendirian seperti yang kita percayai selama ini. Thomas Edison dikelilingi puluhan asisten di laboratoriumnya, dan Albert Einstein sering berdiskusi dengan rekan-rekannya, baik secara langsung atau lewat surat.

George Stephenson sendiri memiliki mentor dan ketika anaknya sudah beranjak remaja, sering berdiskusi dengan anaknya yang telah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Penelitian Anders Ericsson telah membuktikan pentingnya deliberate practice dalam mencapai kegeniusan. Dan mereka yang berhasil menjalani deliberate practice tersebut dan mencapai status ahli kelas dunia selalu dikelilingi orang-orang yang mendukung mereka. Bayangan tentangan ilmuwan eksentrik atau atlet yang berjuang sendirian seharusnya dibuang jauh-jauh.

Sebaliknya, bila Anda ingin mencapai sebuah impian besar, sementara teman-teman pergaulan Anda memiliki pikiran yang sempit, maka mereka akan berusaha keras menarik Anda kembali ke tingkatan mereka dengan berbagai cara. Karena itu, bila Anda ingin sukses, bijaklah memilih lingkungan sosial Anda.