Efek Bystander : Matinya Empati

Di bulan Oktober 2011, seorang anak berumur dua tahun di China ditabrak oleh sebuah mobil. Sementara dia terbaring dan terluka di jalan, sebanyak 18 orang berjalan melaluinya. Beberapa dari mereka bahkan berjalan di sekitar darahnya. Tapi tidak ada satupun orang yang menolongnya.

Bahkan sebagian lagi hanya berdiri terdiam dan menonton saja kejadian ini. Anak itu baru ditolong oleh seorang pria setelah ada sebuah truk yang juga menabrak tubuh anak itu yang sedang terkapar di tengah jalan.

Mengapa orang hanya berjalan melewatinya dan tidak tergerak untuk menolong anak itu? Apa yang membuat orang mengabaikan orang lain yang membutuhkan bantuan?

Inilah yang disebut dengan efek bystander.

Secara sederhana Efek Bystander adalah fenomena sosial di bidang psikologi ketika semakin besar jumlah orang yang ada di sebuah tempat kejadian, akan semakin kecil kemungkinan orang orang itu akan tergerak untuk menolong seseorang yang sedang mengalami kesulitan di tempat itu.

Efek Bystander ini muncul pertamakali di tahun 1964. Waktu itu terjadi sebuah pembunuhan yang sangat kejam di Queens, New York. Korbannya adalah seorang perempuan bernama Kitty Genovese yang berumur 28 tahun. Pembunuhan ini terjadi di tempat yang cukup terbuka dan banyak orang yang melihatnya. Namun tidak ada satupun orang yang peduli dan menolong sang korban.

Berita ini menjadi begitu viral dan menarik perhatian para psikolog sosial untuk mencari tahu, mengapa orang orang yang melihat kejadian itu tidak ada satupun yang tergerak untuk menolong.

Suratkabar yang beredar menilai 38 saksi mata Genovese, egois dan tidak peduli.
Tetapi Psikolog Sosial John Darley dan Bibb Latane mempunyai teori yang berbeda.
Dari penelitiannya, Darley dan Latane percaya bahwa jumlah saksi mata yang besar
akan menurunkan rasa ingin menolong.

Seseorang akan menolong orang lain yang membutuhkan bantuan jika tidak ada orang lain disekitarnya. Sebaliknya, jika ada banyak saksi mata, seseorang cenderung mempunyai keinginan yang lebih kecil untuk menolong. Hal ini disebabkan karena ia merasa bukan satu-satunya orang yang ada ditempat tersebut, juga merasa banyak orang disekelilingnya yang bisa membantu.

Inilah yang juga disebut Difusi Tanggung Jawab. Difusi tanggung jawab inilah yang menyebabkan empati mati. Nah, di sinilah ketrampilan Komunikasi Interpersonal dibutuhkan.