Choke : kegagalan seorang expert

Ditulis oleh : Yolly Yohandi

Di ajang piala Wimbledon 1992, Jana Novotna bertarung melawan Steffi Graf. Novotna
memimpin pertandingan. Tinggal satu poin lagi ia akan memenangkan pertandingan.
Namun, di detik – detik terakhir ini, permainan Novotna menjadi sangat buruk. Ia bertanding
layaknya seorang amatir. Berkali – kali ia melakukan kesalahan yang membuat dirinya
akhirnya dapat ditaklukkan oleh Steffi Graf.

Oleh Malcolm Gladwell, apa yang dialami oleh Novotna inilah yang disebut Choke (tercekat).

Apa itu tercekat?

Choke adalah tentang berpikir telalu banyak. Tidak bisa disangkal jika banyak dari pikiran itu
yang cenderung negatif. Pikiran-pikiran seperti akankah saya menampilkannya dengan
sempurna, bagaimana jika saya melakukan kesalahan, banyak sekali yang sedang
menonton saya, dan hal-hal lainnya. Yang pada akhirnya karena terlalu terfokus pada hal
yang tidak seharusnya, malah membuat hal-hal negatif itu menjadi benar-benar terjadi.

Orang yang mengalami Choke adalah orang-orang yang sudah berlatih dengan keras dan
intens, dan mereka adalah orang-orang yang sudah pro. Mereka sudah terbiasa berlatih dan
mempunyai jam terbang yang tinggi sehingga mereka menjadi hebat dalam bidangnya.
Tetapi mengapa mereka bisa mengalami Choke yang berakhir dengan kegagalan?

Dalam setiap program latihan yang terarah, tentunya kita akan mendapat suatu kemajuan,
kemampuan kita akan terus menjadi lebih baik. Bukan hanya kemampuan yang meningkat
tetapi Instinct yang lebih berhubungan dengan kemampuan bawah sadar juga ikut
meningkat.

Ini yang menyebabkan seorang yang sudah profesional, tidak perlu berpikir
terlalu banyak jika ingin mengembalikan servis lawannya, dia tidak perlu menghitung sudut
pengembalian yang baik itu seperti apa, seberapa besar kekuatan yang diperlukan, semua
hal itu sudah ada dalam bawah sadar seorang petenis profesional.

Tetapi pada seorang yang merasakan Choke semua hal itu berubah. Saat seharusnya dia
hanya perlu menggunakan pikiran bawah sadar dan mengandalkan Instinct-nya untuk
melakukan sesuatu, dia berubah.

Dia justru terlalu fokus dengan pikiran sadarnya. Hal ini memberi efek kecepatan berpikir mmenjadi lambat, respon yang muncul juga menjadi lebih
lambat. Dia menjadi orang yang sangat textbook padahal seharusnya semua materi sudah
ada di otaknya. Akibatnya ia sering membuat kesalahan.