Apa Tujuan Hidupmu ?

Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap generasi milenium, yaitu mereka yang lahir
setelah tahun 1981, mengungkapkan bahwa 80% dari mereka menyatakan bahwa menjadi
kaya adalah tujuan utama hidup mereka. Sedangkan 50% diantaranya ingin mengejar
popularitas.

Sadar atau tidak, semua berawal dari lingkungan. Seringkali, kita didorong lingkungan
tempat dimana kita tinggal, untuk mengejar uang dan popularitas, sehingga tanpa kita
sadari, kita juga mungkin menurunkan hal yang sama kepada anak anak kita. Akan tetapi,
benarkah bahwa uang dan popularitas adalah sumber kebahagiaan yang sesungguhnya?

Pada tahun 1923, sembilan orang terkaya di dunia bertemu di Chicago's Edge Water Beach Hotel. Konon, bila kekayaan kesembilan orang ini digabungkan, jumlahnya diperkirakan
melebihi kekayaan Pemerintah Amerika Serikat pada waktu itu.

Dan bisa dipastikan, 9 orang ini pasti tahu bagaimana mencari nafkah dan mengumpulkan kekayaan. Tapi, apa yang terjadi kepada ke-9 orang ini 25 tahun kemudian sungguh mengejutkan. 3 orang diantara mereka, yaitu Jesse Livermore (penguasa Wall Street), Ivar Krueger (Pengusaha besar yang memonopoli industri dunia), dan Leon Fraser (Presiden Bank of International Settlement), mengakhiri hidupnya degan bunuh diri.

Sedangkan 3 orang lagi, yaitu Samuel Insul (Presiden perusahaan utilitas terbesar dunia),
Charles M Schwab (Presiden perusahaan baja terbesar), dan Arthur Cutten (Salah satu
pedagang komoditi terbesar dunia), meninggal dalam kondisi bangkrut. Dan seorang lagi,
Howard Hubson (presiden perusahaan gas terbesar), menjadi gila.

Apa yang keliru dengan mereka? Tokoh-tokoh itu lupa, bagaimana "membuat hidup” saat mereka sibuk menghasilkan uang!Uang itu sendiri tidak jahat. Uang bisa menyediakan
makanan untuk orang lapar, membeli obat untuk orang sakit, menyediakan pakaian untuk
orang yang membutuhkan, semuanya memerlukan uang.

Uang hanya merupakan alat tukar. Ada banyak dari kita yang begitu asyik dengan kehidupan profesional kita, sehingga mengabaikan tanggung jawab keluarga, kesehatan dan sosial kita.Jika ditanya mengapa kita melakukan ini, kita akan menjawab bahwa "Kami melakukannya untuk keluarga kami.

Namun faktanya, anak-anak kita sedang tidur saat kita meninggalkan rumah. Mereka tidur
saat kita kembali ke rumah !! Dua puluh tahun kemudian, kita akan kembali, dan mereka
semua akan pergi, mengejar impian dan hidup mereka sendiri.

Tanpa air, kapal tidak bisa bergerak. Kapal membutuhkan air, tapi jika air masuk ke kapal,
kapal akan menghadapi masalah eksistensial. Apa yang dulunya sarana hidup untuk kapal,
sekarang akan menjadi sarana penghancuran. Demikian pula dengan hidup kita. Pada saat produktif, penghasilan adalah sebuah kebutuhan. Tapi jangan biarkan penghasilan masuk ke dalam hati kita, karena apa yang dulu merupakan sarana hidup, pasti akan menjadi sarana penghancuran bagi kita juga.

It’s Not What We Have In Life, But Who We Have in Our Life That Matters

Sejak tahun 1937, para peneliti dari Harvard telah mengumpulkan sekelompok orang untuk
mencoba menemukan jawaban hal apa yang sebenarnya ikut menentukan kebahagiaan
seseorang. Dan setelah 70 tahun lebih, hasil dari penelitian itu akhirnya diumumkan.

Setidaknya ada 3 hal yang bisa menjadi pelajaran dari hasil penelitian itu :

  1. Hubungan sosial memberikan dampak yang bagus bagi manusia. Orang orang yang lebih
    terhubung dengan keluarga, teman teman, maupun komunitasnya cenderung lebih bahagia. Sebaliknya, orang orang yang hidupnya lebih terisolasi dari lingkungan sekitar (penyendiri) cenderung tidak bahagia dan kesehatan fisiknya menurun lebih cepat di usia paruh baya, begitu juga dengan fungsi otaknya.
  2. Bukan jumlah teman atau seberapa banyak hubungan sosoal yang kita miliki, melainkan kualitas hubungan itu sendirilah yang menentukan seberapa bahagianya kita. Contohnya, berada dalam hubungan yang penuh konflik justru akan membuat kita lebih tidak bahagia dibandingkan saat kita tidak terikat dalam suatu hubungan.
  3. Memiliki hubungan sosial yang baik tidak hanya memberikan dampak positif bagi pada tubuh, tetapi juga untuk kesehatan otak kita. Orang orang yang menikah dan tidak memiliki masalah dalam pernikahannya, memiliki ingatan yang jauh lebih baik sampai usia 50 tahun dibanding yang tidak menikah.

Singkatnya, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa memiliki hubungan sosial yang baik
adalah kunci utama dari kebahagiaan dan kesehatan, baik fisik maupun mental. Lingkup
hubungan sosial yang paling kecil dan mendasar adalah keluarga. Keluarga adalah
microcosm of society. Dari begitu banyak manusia yang hidup di dunia ini, semuanya
dibentuk dari kumpulan masyarakat terkecil, yaitu keluarga. Keluarga adalah alat terbaik
pembentukan karakter manusia.

Dalam bukunya yang berjudul Life Principles, Edgar Injap Sia, salah satu orang terkaya di
Filipina yang juga merupakan milyarder termuda versi Forbes Asia tahun 2016, mengatakan,
“Menjadi milyarder di usia 33 tahun bukan hanya menjadi penanda kesuksesan, tetapi juga
ujian. Ini adalah tes bagi kepribadian dan karakter saya. Saya berterima kasih atas nilai-nilai
yang telah ditanamkan oleh orang tua saya pada kami anak-anaknya.

Nilai nilai keluarga itulah yang membuat saya dapat tetap menjadi rendah hati, Injap tidak lahir dalam kondisi keluarga yang sudah kaya. Semua kekayaannya adalah buah kerja keras yang dirintis selama bertahun-tahun.  Bertahun-tahun saya belajar dan melihat bagaimana orang tua saya mendirikan bisnis.Jadi tanpa mereka sadari, mereka memberikan saya banyak wawasan” tukasnya.

Dengan demikian, benarlah apa kata pepatah,” It’s Not What We Have In Life, But Who We
Have in Our Life That Matters.”