BPS Jateng Lakukan SUTAS 2018

 

Semarang – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah akan melaksanakan Survei Usaha Pertanian Antar Sensus (SUTAS) tahun 2018. Kepala BPS Jateng, Margo Yuwono mengatakan, sutas ini dilakukan untuk mengetahui data pertanian yang lebih rinci mengenai jumlah dan kondisi petani di wilayah ini.

“sutas ini adalah untuk mendapatkan data pertanian yang lebih rinci, karena untuk mengunggu sensus kan masih tahun 20023. Sehingga diharapkan dengan sutas maka dapat menangkap fenomena perdagangan sekarang,”ungkapnya kamis (3/5)

Pihaknya telah melakukan pelatihan kepada petugas survey dilapangan, agar dapat mengkomunikasikan bahasa tekhnis di questioner kepada responden atau masyarakat. Pasalnya dalam melakukan survey BPS dibatasi oleh metodologi demi keakuratan data.

“kita juga melakukan sosialisasi kepada responden agar mau disurvey dan memberikan jawaban yang sesuai. Karena kalau hasil yang dikumpulkan merupakan data sampah, maka hasilnya juga sampah,”ujarnya

Margo Yuwono menambahkan, dari hasil sesnsu BPS mulai tahun 2003 hingga 2013 lalu, jumlah petani mengalami penurunan sebanyak 1,5 juta rumah tangga. Hal ini menurutnya karena pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, sehingga pertanian dianggap tidak lagi menarik.

“Dengan sutas ini kita ingin lihat apakah tren ini juga masih berlanjut dalam lima tahun ini. Sehingga ini menjadi tantangan buat pemerintah, bagaimana pertanian bisa tetap menjadi tulang punggung perekonomian kita,”

Sementara  wakil dekan FEM Intitus Pertanian Bogor, Muhammad Firdaus mengatakan, data sutas ini sangat penting untuk menjawab persoalan jumlah riil petani dan kebutuhan  pangan di dalam negeri. Sehingga dengan data ini juga dapat menjadi dasar pemerintah dalam menentukan kebijakan.

“Selama ini kan kita selalu berdebat dengan berapa jumah produksi kita? Mengapa selalu impor? Sehingga sutas ini bisa menjawa pertanyaan besar seperti ini,”

Ia menyambut baik langkah BPS Jateng yang sangat serius dalam menyiapkan Survei Usaha Pertanian Antar Sensus (SUTAS) tahun 2018. Sehingga diharapkan daerah – daerah lain bisa belajar dari BPS Jateng dalam melakukan survey.

“BPS Jawa tengah merupakan yang pertama mengadakan  statistic coaching clinic, sehingga daerah lain bisa belajar dari sini,”ungkapnya